Psikologi Islam ibarat rumah yang berasitektur paling profesional dengan miniatur sebuah istana kokoh yang dapat menampung banyak orang, dengan bermodalkan bahan-bahan pilihan dan berkualitas tinggi.
Namun hingga saat ini bangunan itu masih belum bisa berdiri dengan baik, bahkan para mandor masih sibuk berwacana tentang pondasi (epistimologi dan metodologinya). Hal ini disebabkan rasio antara mandor (ilmuwan + tukang kritik) dan tukangnya (ilmuwan konstruktif) lebih banyak mandornya.
Perlu disadari bahwa perjuangan psikologi Islam di Indonesia tidak semudah yang dicita-citakan, sejumlah problematika baik pada tataran teoritik, aplikatif maupun kelembagaannya masih banyak, sehingga membutuhkan energi lebih besar untuk membangun dan mengembangkannya menjadi sebuah mainstream baru dalam perkembangan keilmuan psikologi.
0 Comments
Post a Comment